Rabu, 09 November 2016

Altitude

TIPE-TIPE ALTITUDE


Altitude ada bermacam-macam. Namun, biasanya jika orang hanya menyebut ‘altitude’ saja, yang dimaksud adalah altitude dengan patokan rata-rata ketinggian air laut (mean sea level) karena altitude yang demikianlah yang biasanya dipakai untuk menggambarkan obstacle dan airspace, juga untuk memisahkan air traffic.

Altitude adalah jarak vertikal diatas sebuah titik atau level yang dipakai sebagai patokan atau referensi. Biasanya pilot akan memperhatikan lima tipe altitude.

Baca Juga

    INDICATED ALTITUDE

    Altitude yang dibaca langsung dari instrumen altimeter yang di-set pada altimeter setting tertentu.

    TRUE ALTITUDE 

    ‘Altitude yang sebenarnya’, jarak vertical sebuah pesawat dihitung dari rerata ketinggian permukaan air laut. Biasanya ditulis berapa feet above mean sea level (MSL). Dalam aeronautical chart, keterangan ketinggian obstacel, airport, terrain, dan sebagainya ditulis dalam True Altitude ini.

    ABSOLUTE ALTITUDE

    Jarak vertikal sebuah pesawat diukur dari ground (tanah), ketinggian pesawat diatas tanah (ground), above Ground Level (AGL).

    PRESSURE ALTITUDE

    Altitude yang ditunjukkan altimeter ketika sudah di-setting menjadi 29.92 “Hg (atau sama dengan 1013.25 hPa), merupakan altitude diukur dari Standard Datum Plane (sebuah level imajiner dimana tekanan udara adalah 29.92 “Hg dengan temperatur 15 Celcius), pressure altitude digunakan untuk mengukur density altitude, true altitude, true airspeed, dan data performa pesawat yang lain.

    DENSITY ALTITUDE

    Merupakan pressure altitude yang dikoreksi berdasarkan perubahan temperatur, oleh karena itu jika kondisinya standard (29.92 “Hg dan suhu 15 celcius) maka density dan pressure altitude sama, namun jika temperatur diatas standar maka density altitude lebih tinggi daripada pressure altitude, begitu juga kebalikannya jika temperatur dibawah standar maka density altitude lebih rendah daripada pressure altitude.

    Catatan:

    Kerapatan udara mempengaruhi performa efektifitas engine. Pada udara yang molekul-molekulnya renggang (tekanan udara rendah, suhu tinggi), engine perlu lebih banyak waktu untuk menggerakan sejumlah molekul udara yang dibutuhkan sehingga takeoff roll menjadi lebih lama atau dengan kata lain performa menurun.

    Contoh. Sebuah airport mempunyai elevasi 5048 feet MSL dengan standard temperature 5 Celcius. Jika temperatur meningkat menjadi 30 Celcius maka Density Altitude meningkat menjadi 7855 feet MSL. Artinya sebuah pesawat di 5048 feet MSL akan melakukan takeoff seperti berada di 7855 feet MSL pada suhu standar. Sebaliknya, jika misalnya suhu menurun menjadi -25 Celcius, density altitude menjadi 1232 feet MSL. Performa pesawat justru lebih bagus di kondisi ini.

    Sumber: https://krismaadiwibawa.wordpress.com

    Related Posts:

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    TRANSLATE

    English French German Spain Italian Dutch

    Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
    by : BTF

    Who Am I ?


    TRI ADI PRASETYA
    Welcome to My Blog. 
    Saya adalah seseorang yang sedang tersesat di jalan yang bernama kehidupan. 
    LinkedIn
    Diberdayakan oleh Blogger.

    Total Tayangan Halaman

    434,483