Selasa, 04 Oktober 2016

Aircraft Axis

Sumbu-Sumbu Pada Pesawat

Pesawat terbang mempunyai tiga sumbu utama, yaitu:

  1. Sumbu longitudinal
  2. Sumbu vertikal
  3. Sumbu lateral

1. Sumbu Longitudinal


Sumbu longitudinal (longitudinal axis) adalah garis lurus yang di tarik melalui titik berat dari nose ke tail dari sebuah pesawat terbang. Garis tersebut akan horizontal apabila pesawat tersebut dalam keadaan “posisi rigging” (straight and level flight/terbang lurus mendatar). Tiap pergerakan/putaran dari pesawat terhadap sumbu ini disebut rolling.
Untuk dapat melakukan gerakan rolling, pilot mengerakkan bidang kendali aileron yang berada di wing / sayap.
Pergerakan aileron dikendalikan dengan mengunakan stick control yang berada di dalam cockpit, stick digerakkan ke kiri dan kekanan. Apabila stick digerakkan ke kanan, maka aileron sebelah kanan akan naik keatas dan aileron sebelah kiri wing akan turun kebawah. Hal ini akan menyebabkan pesawat akan rolling kesebelah kanan.

2. Sumbu Vertical


Sumbu vertical (vertical axis) adalah suatu garis lurus yang ditarik melalui titik berat serta vertikal bila pesawat dalam posisi rigging yang membentuk sudut 90º dengan sumbu longitudinal . Tiap pergerakan /putaran terhadap sumbu ini disebut yawing.
Untuk dapat melakukan gerakan yawing pada pesawat, pilot menggerakkan bidang kendali rudder yang berada pada vertical stabilizer.
Pergerakan rudder dikendalikan dengan menggunakan rudder pedal (kanan dan kiri) yang berada didalam cockpit. Apabila pedal kiri diinjak, maka rudder akan bergerak ke kiri dan nose pesawat akan mengarah ke kiri. 

3. Sumbu Lateral


Sumbu lateral (lateral axis) adalah suatu garis lurus yang ditarik melalui titik berat dan tegak lurus terhadap sumbu longitudinal dan sumbu vertikal. Tiap gerakan/putaran terhadap sumbu ini disebut pitching.
Untuk dapat melakukan gerakan pitching, pilot menggerakkan bidang kendali utama atau primary control surface, yaitu dengan mengerakkan elevator yang terletak pada horizontal stabilizer.
Pergerakan elevator dikendalikan dengan mengunakan stick control yang berada di dalam cockpit, stick digerakkan kedepan dan kebelang. 
Apabila stick digerakkan kebelakang, maka elevator up atau keatas dan akan mengakibatkan nose pesawat bergerak keatas. 
Apabila stick digerakkan kedepan, maka elevator down atau turun dan akan mengakibatkan nose pesawat bergerak turun kebawah.
Gerakan pitching dilakukan pada saat pesawat akan melakukan take off (pada saat climbing atau terbang menanjak) dan landing (pada saat descent atau terbang menurun).

Aircraft Instruments

INSTRUMENT PESAWAT TERBANG



Pada suatu pesawat terbang, kata “Instrument” adalah suatu alat yang berfungsi untuk memberikan data atau informasi kepada penerbang tentang kondisi, kedudukan, sikap, dan arah pesawat terbang yang diyakini kebenarannya.
Instrument pada pesawat udara bertujuan untuk membantu pilot pada saat tinggal landas (take off), pengendalian pesawat diudara (manouvering) dan mendaratkan pesawat (landing) dengan selamat.

Syarat-syarat instrumen:

  1. Instrumen harus tahan getaran yang terus menerus selama motor berputar.
  2. Harus tahan kejutan yang hebat waktu mendarat dan ketika taxying di darat.
  3. Penunjukan jarum penunjuk (pointer) harus tepat, walau bagaimanapun posisi pesawat dan tahan terhadap pengurangan tekanan karena perubahan tinggi.
  4. Harus ringan, tahan karatan, dan komponen-komponennya harus seimbang.
  5. Penunjukan pada skala harus terang, sehingga dapat dilihat dengan jelas, baik siang, malam maupun pada waktu udara buruk/berkabut.
  6. Instrumen harus mudah dipasang, dilepas, distel, dan ukuran instrumen harus standar.

Klasifikasi Instrument Pesawat


Kalau menurut kegunaan dan tujuan instrument pesawat, maka instrument dapat diklasifikan berdasarkan fungsinya. Klasifikasi fungsi instrument adalah sebagai berikut;
  1. Engine instrument. : Engine Instrument adalah suatu kelompok instrument yang berfungsi memberikan data atau informasi kepada penerbang tentang kondisi engine pada kondisi saat itu.
  2. Flight instrument. Flight Instrument adalah suatu kelompok instrument yang berfungsi memberikan data atau informasi kepada penerbang tentang kondisi dan sikap pesawat saat itu.
  3. Navigasi instrument. Navigasi Instrument adalah suatu kelompok instrument yang berfungsi memberikan data atau informasi kepada penerbang tentang arah atau navigasi pesawat saat melaksanakan penerbangan. Navigasi instrument digunakan untuk keperluan navigasi pesawat.
  4. Auxilliary instrument. Auxilliary instrument juga disebut sebagai miscellineous instrument. Auxilliary instrument adalah suatu kelompok instrument yang berfungsi memberikan data atau informasi kepada penerbang tentang suhu sekitar pesawat, keadaan fuel, waktu dan sebagainya. Instrument yang tidak termasuk dalam kelompok di atas, tetapi sangat dibutuhkan keberadaanya maka termasuk auxilliary instrument.

FLIGHT INSTRUMENT

  • Air Speed Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui kecepatan pesawat relatif terhadap tekanan udara di sekelilingnya atau terhadap tekanan udara statis.
  • Altimeter

Altimeter adalah intrumen yang berfungsi untuk menunjukkan ketinggian pesawat terhadap permukaan air laut. Penunjukan altimeter diperoleh dengan mengukur perbedaan tekanan antara kapsul aneroid didalam altimeter dengan tekanan luar yang didapatkan dari port static.  Ketinggian pesawat terhadap permukaan air laut ditunjukan dalam satuan feet.
  • Vertical Speed Indicator

Vertical speed indicator berfungsi menunjukkan kecepatan pesawat saat climb (mendaki) atau descent. Instrumen ini dapat mendeteksi perubahan tekanan udara di port static, yang disebabkan oleh perubahan ketinggian pesawat (altitude).
Saat pesawat climb, maka jarum akan bergerak keatas, saat pesawat descent jarum akan bergerak kebawah. Saat pesawat tidak mengalami perubahan ketinggian (level-off) jarum akan menunjukkan ke angka nol.
  • Turn and Bank Indicator

Turn and bank indicator berfungsi untuk mengetahui bahwa pesawat membuat suatu belokan dan menunjukkan besar-kecilnya sudut belokan tersebut. Turn and bank indicator menggunakan prinsip gyroscope sebagai penggeraknya.
  • Artificial Horizon

Artifisial horizontal indicator (AHI) digunakan untuk mengetahui atau menunjukkan sikap pesawat atau gerakan pesawat terhadap sumbu longitudinal axis dan sumbu lateral axis. Indicator ini seolah-olah menggantikan garis horizon bumi.

ENGINE INSTRUMENT

  • Engine Speed Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk menegetahui putaran dari N1 maupun dari N2.
  • Oil Pressure Indicator

Oil pressure indicator diperlukan untuk mengetahui besarnya tekanan oli yang digunakan untuk melumasi bearings dan bagian-bagian engine yang bergerak. Skala penunjukkan pada indikator menggunakan satuan Pounds Per Square Inch/PSI dan ada juga yang menggunakan satuan Kg/cm2..
  •  Oil Temperature Indicator


Oil temperature indicator diperlukan untuk mengetahui temperatur oil yang digunakan untuk melumasi engine
  • Cylinder Head Temperature

Cylinder head temperature indicator diperlukan untuk mengetahui temperature cylinder head atau barrel pada engine engine yang berpendingin udara.
  • Exhaust Gas Temperature

EGT digunakan untuk mengetahui temperature gas buang pada engine. EGT merupakan indikator factor yang kritis dalam pengoperasian mesin pesawat terbang. Apabila EGT naik melebihi batas yang ditentukan, dapat menyebabkan kerusakan pada komponen mesin. Pengukuran EGT dilakukan dengan meletakkan sensor temperatur pada bagian turbin outlet temperature (TOT), atau pengukuran EGT dapat dilakukan pada turbin inlet tempetarure
  • Fuel Pressure Indicator

Fuel pressure indicator diperlukan untuk memberikan peringatan adanya kegagalan operasi engine akibat kerusakan pada sistem bahan bakar, memberi penunjukan bahwa fuel mengalir ke dalam sistem dengan tekanan constant dan juga untuk memberikan tanda adanya gangguan pada sistem aliran fuel yang masuk ke engine.
  • Fuel Quantity Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui kapasitas bahan bakar dari pesawat.
  • Fuel Flow Indicator

Fuel flowmeter indicator berfungsi untuk mengetahui pemakaian bahan bakar selama engine bekerja. Fuel flowmeter ditunjukan dalam satuan lbs/jam atau Kg/jam. Instrumen ini pada umumnya dipergunakan pada pesawat-pesawat multi engine yang besar, akan tetapi pada pesawat – pesawat kecil juga kadang-kadang dapat kita jumpai.
  • Manifold Pressure Indicator

Manifold pressure indicator digunakan untuk mengetahui besarnya tekanan absolute dalam intake manifold sebelum intake valve. Indicator ini sangat penting pada pesawat terbang yang menggunakan piston engine, karena tenaga yang dihasilkan oleh mesin akan sebanding dengan banyaknya campuran antara udara dan bahan bakar untuk pembakaran. Skala penunjukkan pada manifold pressure indicator menggunakan satuan Inch Hg.
  • Turbine Inlet Temperature

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui suhu dari udara sebelum masuk ke ruang bakar.
  • Air Intake Temperature
Instrumen ini berfungsi untuk mengukur suhu udara.
  • Torque Indicator
Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui tenaga dari suatu engine dengan cara mengukur tekanan yang ditimbulkan oleh Torque System.
  • Thrust Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengukur kekuatan gaya dorong pesawat.

NAVIGATION INSTRUMENTS
  • Magnetic Compass

Instrumen ini berfungsi untuk menunjukkan arah terbang daripada pesawat terhadap kutub magnet bumi.
  • Directional Gyro Indicator

Directional gyro indicator digunakan untuk mengetahui atau menunjukkan arah pesawat selama dalam penerbangannya (seperti halnya magnetic compass indicator) dan memberi informasi kepada penerbang tentang besarnya derajat penyimpangan dari arah semula.
  • Radio Magnetic Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk menunjukkan arah berdasarkan frekuensi (VOR) dari sistem radio.
  • Course Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui posisi pesawat dari tujuan pesawat.
  • Drift Meter
Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui penyimpangan arah pesawat.
  • Outside Air Temperature
Instrumen ini berfungsi untuk mengukur suhu luar pesawat.
  • Clock

Instrumen ini berfungsi sebagai penunjuk waktu pada pesawat udara.

AUXILIARY INSTRUMENTS

  • Landing Gear Position Indicator
Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui posisi landing gear (roda pesawat).
  • Flap Position Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui posisi flap pesawat.
  • Accelerometer (G meter)

Instrumen ini berfungsi untuk mengukur akselerasi pesawat terhadap gravitasi pada saat pesawat pitch untuk mengendalikan Center of Gravitation.
  • Fatique Meters
Instrumen ini berfungsi untuk mengukur gravitasi terhadap pesawat.
  • Cabin Pressure Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengukur tekanan yang terdapat di dalam kabin pesawat.
  • Cabin Temperature Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengukur suhu yang terdapat di dalam kabin pesawat.
  • Hydraulic Pressure Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui tekanan hidrolik pada pesawat.
  • Suction Gague
Instrumen ini berfungsi untuk menunjukkan pengurangan tekanan udara / menunjukkan suatu tekanan kerendahan dari udara.
  • Angle of Attack Incator

Instrumen ini berfungsi untuk menunjukkan sudut serang besar / rendah pada keadaan terbang normal dan besar sudut serang yang sebenarnya, dengan demikian pilot dapat dengan tepat menerbangkan pesawatnya dengan sudut yang paling baik, kecepatan naik yang paling baik atupun terbang jelajah.
  • Anti Icing Indicator

Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui suhu alat pemanas.

Jumat, 30 September 2016

AFTERBURNER

Afterburner


Pembesaran thrust pada turbojet engine sangat diperlukan dalam kondisi tertentu, antara lain pada saat tinggal landas pada cuaca panas  atau untuk kepentingan manoeuvre bagi pesawat tempur. Besarnya  thrust pada jet engine ditentukan oleh jumlah laju massa udara yang dihisap kompresor (m), kecepatan aliran gas hasil pembakaran yang disemburkan dari nosel (Vj), dan kecepatan udara masuk melalui inlet nozzle (Vi),  yang bisa dinyatakan :

F = m (Vj - Vi)

Turbojet engine merupakan mesin konversi energi yang merubah energi panas menjadi thrust. Berdasarkan rumus thrust,  besarnya Vj dipengaruhi oleh suhu maksimum yang dihasilkan dalam siklus turbojet engine.  Semakin tinggi suhu maksimum berarti semakin besar harga Vj. Oleh karena itu salah satu cara memperbesar thrust pada turbojet engine dengan cara meningkatkan suhu maksimum pada siklus engine. Pesawat yang mampu menghasilkan thrust yang besar akan memperpendek jarak take-off,  laju terbang menanjak yang tinggi (high climb rate), dan mampu manoeuvre dengan lincah khususnya untuk pesawat militer.  Salah satu cara pembesaran thrust dalam turbojet engine, yaitu menggunakan afterburner.

Afterburner 

Pada dasarnya tujuan afterburner adalah pembesaran thrust dengan cara meningkatkan kecepatan semburan gas hasil pembakaran yang melalui nosel (Vj).  Telah dijelaskan bahwa besarnya  Vj dipengaruhi oleh tinggi suhu maksimum dalam siklus turbojet engine, yaitu suhu setelah pembakaran atau suhu gas pada saat masuk turbin.
Namun peningkatan suhu saat masuk turbin tidak boleh terlalu tinggi, dan dibatasi pada ketahanan bahan pembuat turbin untuk menerima stress termal.  Oleh karena itu peningkatan suhu maksimum siklus pada afterburner dilakukan setelah turbin, dengan cara pembakaran ulang (reheat). 
Pembakaran  dalam combustion chamber pada turbojet engine terjadi dengan campuran udara yang berlebihan (excess air), dengan rasio bahan bakar terhadap udara sekitar 0.017. Dengan demikian masih tersedia cukup oksigen untuk pembakaran berikutnya. Skema engine turbojet dengan afterburner dapat dilihat pada gambar.
Turbojet dengan afterburner

Siklus turbojet dengan afterburner

Siklus turbojet
  • 0-3 : Proses kompresi secara insentropis di dalam kompresor
  • 3-4:  Proses pemasukan kalor secara isobar di dalam combustion chamber
  • 4-5 : Proses expansi secara insentropis di dalam turbine, usaha yang dihasilkan digunakan untuk mengerakkan kompresor
  • 5-7 : Proses expansi, usaha yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan thrust
Siklus tubojet dengan afterburner
  • 5-6 Penambahan afterburner memungkinkan peningkatan thrust. Afterburner beroperasi pada kisaran entropi yang lebih tinggi dan memiliki efisiensi yang lebih rendah daripada turbojet.

Cara Kerja Afterburner


Dengan bantuan afterburner maka pesawat tempur mampu memiliki kecepatan diatas kecepatan suara atau sudah melewati kecepatan supersonik. Pembakaran ulang dilakukan dengan menyemprotkan bahan bakar melalui sederetan nosel yang dipasang pada daerah tail pipe yaitu saluran antara turbin dan nosel.  Karena gas hasil pembakaran kedua (afterburner) tidak melewati  komponen apapun pada daerah turbin dan nosel, maka suhu gas buang yang dihasilkan dibuat setinggi mungkin  (sekitar 2000C).   Energi panas yang dihasilkan dalam afterburner selanjutnya dirubah menjadi energi kinetik dalam bentuk kecepatan semburan gas hasil pembakaran yang tinggi melalui nosel (Vj). Peningkatan Vj inilah yang akan memperbesar thrust
Selain pembesaran momentum thrust, pemakaian afterburner juga menghasilkan peningkatan pressure thrust.  Pressure thrust adalah thrust yg dihasilkan oleh beda tekanan antara tekanan gas buang pada bidang nosel (Pj) dengan tekanan udara saat masuk inlet engine (Pi).  Jika beda tekanan tersebut dikalikan dengan luas penampang nosel (Aj), maka akan diperoleh pressure thrust.  Dengan demikian thrust total yang dihasilkan engine adalah :

F = m (Vi - Vj) + Aj (Pj - Pi)

 Variable Exhaust Nozzle

Membesarnya luasan nosel (Aj) untuk memberikan fasilitas ekspansi gas buang, dan meningkatkan Pj jelas akan meningkatkan pressre thrust secara signifikan.
Kerugian pemakaian afterburner selain peningkatan specific fuel consumption juga akan meningkatkan kebisingan engine. Kebisingan engine ini disebabkan oleh peningkatan kecepatan semburan gas buang dari nosel. 

Kamis, 29 September 2016

Combustion Chamber

RUANG BAKAR


Combustion chamber adalah sebuah komponen atau daerah dari turbin gas, ramjet, atau mesin scramjet di mana pembakaran terjadi. Combution chamber ini juga dikenal sebagai burner, ruang pembakaran atau pemegang api. Dalam mesin turbin gas, ruang bakar (combustor atau combustion chamber) diumpankan suatu udara bertekanan tinggi oleh sistem kompresi. Combustor kemudian memanaskan udara ini pada tekanan konstan. Setelah pemanasan, udara melewati dari ruang bakar melalui panduan baling-baling nozzle untuk turbin. Dalam kasus mesin ramjet atau scramjet, udara secara langsung diumpankan ke nosel.

  • Fungsi

Fungsi ruang bakar adalah untuk mengubah enegi tekanan menjadi energi panas melalui proses pembakaran. Tiga jenis ruang bakar yang digunakan pada jet engine adalah jenis can, annular dan can-annular.

  • Jenis Can

Jenis can terdiri dari ruang bakar yang tersusun secara individu berbentuk tabung-tabung (cans), dipasang melingkar sekeliling poros engine yang masing-masing menerima udara melalui shroud berbentuk silindris yang ada pada masing-masing can. Salah satu kerugian pemakaian ruang bakar jenis can adalah pemakaian ruang yang relatif lebih besar dalam bentuk diameter engine yang lebih besar. Keuntungannya antara lain mudah dalam pemeliharaan, karena mudah dilepas secara individu untuk kepentingan pemeriksaan. Disamping itu pattern semburan campuran bahan bakar dan fuel mudah diatur dibanding dengan jenis annular.
Can

  • Jenis Annular

Jenis annular merupakan ruang bakar dengan ruang tunggal berbentuk silindris konsentris yang terpasang mengelilingi sumbu engine. Susunan ini efisien dalam pemakaian, kehilangan tekanan relatif kecil, mudah dipasang dengan pemasangan sumbu kompresor/turbin, efisiensi tinggi. Salah satu kerugiannya adalah persoalan struktur yang cenderung memperbesar diameter engine. Disamping itu lebih sulit dalam pemeliharaan karena guna pemeliharaan seluruh ruang bakar harus dilepas.
Annular

  • Jenis Can-Annular

Jenis can-annular merupakan gabungan dari jenis can dan annular, sehinggaa mengeliminir kerugian serta mengambil keuntungan dari jenis can dan annular.
Can-Annular

  • Aliran Udara Dalam Combustion Chamber


Udara dalam tabung pembakaran terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
  1. Arus primer : arus primer adalah udara yang masuk ke laras tabung pada ujung depan, udara tersebut bercampur dengan bahan bakar dan terbakar
  2. Arus sekunder : arus sekunder adalah udara pendingin yang lewat melalui celah antara outer casing dengan combustion chamber, udara ini kemudian bergabung dengan gas pembakaran menerobos lubang besar arah belakang liner, udara ini mendinginkan gas pembakaran dari 3500 F turun menjadi 1500 F.
Aliran udara di dalam tabung
Di sekeliling lubang nozzle terdapat lubang-lubang kecil yang berguna untuk membantu bahan bakar menjadi kabut (atomization). Disamping itu juga dilengkapi dengan louver yang berfungsi mengarahkan udara ke dalam

  • Cara Kerja Combustion Chamber


Bahan bakar disemburkan oleh nosel yang terletak pada bagian depan ruang bakar. Aliran udara pada sekitar nosel berasal dari udara yang melalui baris pertama lubang udara pada liner. Aliran udara pada liner bagian depan bersirkulasi ke arah depan (upstream) atau ke arah melawan semburan bahan bakar. Kondisi ini berguna untuk mempercepat proses pencampuran udara serta menghindari adanya flame blowout dengan cara membentuk daerah stabil berkecepatan rendah. Biasanya dalam satu engine hanya terdapat dua buah ignitor, karena itu tabung ignitor lintang (cross ignitor tube) dibutuhkan dapat membantu pembakaran paa jenis can dan can-annular. Ignitor plug biasanya dipasang pada daerah aliran ke hulu dari ruang bakar (reverse-flow region). Setelah penyalaan, pembakaran akan menyebar daerah ruang pembakaran primer di mana campuran bahan bakar dan udara secara sempurna dapat terbakar. Hanya sekitar sepertiga sampai setengah dari jumlah udara yang diperbolehkan masuk ke dalam pembakaran. Dari jumlah tersebut hanya sekitar seperempat yang digunakan dalam proses pembakaran. Gas hasil pembakaran bertemperatur sekitar 3500 F (1900 C). Sebelum memasuki turbin gas hasil pembakaran harus didinginkan sampai separuh dari temperatur tersebut. Pendinginan dilakukan oleh aliran udara yang masuk melalui lubang-lubang besar pada liner bagian belakang. Selain itu dinding dalam liner juga harus dilindungi dari temperatur tinggi. Untuk itu didinginkan dengan mengalirkan udara dingin pada beberapa tempat di sepanjang liner, sehingga membentuk selimut yang membatasi gas panas dengan dinding liner.

Selasa, 27 September 2016

LIFT

Lift

Lift (gaya angkat) timbul dari aliran udara yang melewati penampang sayap yang berbentuk airfoil. Lift inilah yang membuat pesawat dapat terangkat ke atas. Lift lebih besar dari weight (gaya berat) pesawat akan terangkat, jika dalam penerbangan jika lift menjadi lebih kecil dari weight pesawat akan berkurang ketinggiannya/turun.
Pesawat straight and level flight jika L=W

Timbulnya lift pada pesawat bisa dipelajari dari :
  • Airfoil 

Airfoil
·         Jika dilihat sebagai penampang: permukaan atas lebih cembung dari pada permukaan bawah
·         Chord line adalah garis bayangan dari leading edge ke trailing edge.
·   Airfoil menghasilkan lift dengan dua cara : perbedaan tekanan dan tumbukan udara
  •  Hukum Bernoulli’s
Timbulnya gaya angkat (lift) karena perbedaan tekanan didasarkan pada teori Daniel Bernoulli. Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah di dalam mekanika fluida yang menyatakan bahwa pada suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan tekanan pada aliran tersebut. Prinsip  ini sebenarnya merupakan penyederhanaan dari Persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama.
Prinsip ini, seperti sudah jelas dari namanya, dirumuskan oleh seorang matematikawan Swiss bernama Daniel Bernoulli (1700-1782), yang merumuskan konsep dinamika fluida dalam persamaan berikut:

Ketiga suku pada masing-masing ruas persamaan ini hanya merunutkan tekanan (p) yang diberikan si fluida, energi gerak fluida per satuan volume (), dan energi potensial fluida per satuan volume (ρgh) pada dua buah titik yang berbeda.

Kecepatan aliran udara yang melawati airfoil

Sayap pesawat dirancang sedemikian rupa dengan bagian atas yang lebih melengkung dari bagian bawah (airfoil). Dengan rancangan sayap semacam ini, ketika udara melalui sayap pesawat, udara yang melintas di bagian atas akan melintas lebih jauh. Oleh karena waktu tempuh udara di atas sayap dan di bawah sayap sama, kecepatan udara diatas sayap lebih besar, yang berarti, tekanan di atas sayap lebih kecil daripada di bawah. Adanya perbedaan tekanan menyebabkan adanya gaya tekan udara, yang totalnya mengarah ke atas. Hal inilah yang diklaim menjadi sebab utama pesawat dapat terbang.
Timbulnya lift pada airfoil


  • Efek Coanda
Bukan hanya karena Prinsip Bernoulli, ada faktor utama lain yang menyebabkan pesawat bisa terbang yaitu efek Coanda. Rancangan sayap yang telah disebutkan pada penjelasan prinsip Bernoulli, selain membuat aliran udara yang sedikit lebih cepat di bagian atas sayap daripada di bagian bawah, ternyata juga menghembuskan udara yang dibelahnya ke arah bawah. 
Ini semua bermula dari kenyataan bahwa sebuah fluida yang mengalir di permukaan sebuah benda lengkung akan cenderung untuk mengikuti bentuk lengkung benda (meskipun pada akhirnya akan menyimpangkan arah laju fluida) sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Efek ini dikenal dengan nama Efek Coandă, merujuk kepada ahli aerodinamika Henri-Marie Coandă (1885-1972). 
Efek Coandă
Udara yang mengalir di atas dan di bawah sayap pesawat. Sayap pesawat membelah aliran udara menjadi ke atas dan ke bawah, dan sesuai dengan efek Coandă, udara yang mengalir di sayap pesawat akan mengikuti bentuk lekukan sayap tersebut. Disinilah kuncinya: Bentuk sayap yang sedemikian rupa membuat udara yang mengalir di atas ‘diarahkan’ sehingga secara umum lebih banyak udara yang dihembuskan ke arah bawah. Dari fakta ini, sesuai hukum 3 Newton, dengan adanya udara yang dihembuskan ke bawah oleh sayap, udara di bawah pesawat akan ‘balas mendorong’ pesawat. 
  • Ram Air
Ada satu faktor lagi. Jika kita lihat penampang melintang sayap pesawat, akan kita dapati bidang sayap pesawat tidaklah sejajar dengan tubuh pesawat, tetapi agak miring di bagian depan (yang disebut sebagai angle of attack) dengan sudut sekitar 4 derajat untuk pesawat-pesawat kecil. Dengan bentuk seperti ini, udara yang dilintasi pesawat akan sedikit ‘tertahan’ di bagian bawah sayap, yang akhirnya mendorong sayap ke atas. Efek serupa dapat kita jumpai jika kita merentangkan tangan keluar kaca jendela mobil yang melaju, dan menaikkan sisi yang menghadap arah angin sedikit. Akan ada dorongan yang cukup kuat ke atas. 
Udara membentur bagian bawah sayap

Prinsip-prinsip inilah, dengan sedikit kontribusi prinsip Bernoulli, yang menjadi faktor utama di balik terbangnya sebuah pesawat.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Who Am I ?


TRI ADI PRASETYA
Welcome to My Blog. 
Saya adalah seseorang yang sedang tersesat di jalan yang bernama kehidupan. 
LinkedIn
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman